Posted by: kristono on: October 11, 2007
Musim mudik, hampir tidak terpikir untuk bepergian hari-hari begini. Apalagi ke Jawa dengan kendaraan umum, sekalipun kendaraan yang ber-AC. Tapi tidak untuk calonnya adik iparku, karena mau menikah bulan depan, dia “harus” sempatkan “nyekar” ke makam abangnya. Jadilah pergi ke solo naik bis seharga tiket pesawat.
Walaupun dia berprinsip bahwa berdoa bisa dimana saja, toh – saudaranya “mengharuskan” untuk melakukan tabur bunga, sekalian minta ijin kali mau menikah.. Lha di Jaman 3G begini, rupanya akal sehat dan dompetnya masih tidak menemukan cara untuk mengatasinya. Bunga bisa dikirim lewat Tiki-OneNightService, doa katanya bisa mengatasi jarak… tapi ya..
Kalaupun doanya jadi manjur karena didoakan dekat makam abangnya, aku lupa berpesan supaya didoakan juga pas hari nikah tidak turun hujan lebat, supaya undangan pada datang, gedung [masih proses ACC] cepat beres, undangan tercetak dan terkirim tepat pada orang dan waktunya, Romonya tidak telat, dekornya bagus, makanannya uenak, baju pengantinnya bagus, koornya bagus dan yang penting duit mereka cukup untuk bayar-bayar semua.
[Calon-calon ipar, 11 Oktober 2007]
October 18, 2007 at 12:57 am
Waktu di Medan dulu, adik teman saya meninggal. Makamnya ada di dekat sebuah sekolah, Raksana, tidak jauh dari Toko Buku Gramedia Gajah Mada, Medan. Lalu mereka sekeluarga pindah, kini menetap di Salatiga. Namun, makam masih ada di Medan.
Saya jadi berpikir, rasanya akan lebih praktis kalau dikremasi daripada dimakamkan. Katanya sih lebih mahal. Tapi jelas lebih praktis. Bayangkan, kalau mau pindahan, abu jenazah masih bisa kita bawa-bawa. Nggak perlu bongkar makam.
Ah, surat wasiat saya akan berisi, “Jangan makamkan saya, kremasikan saya saja.”